TNI Butuh Pesawat Tempur untuk Tegakkan Poros Maritim

Jakarta – Mabes TNI AU mengakui belum optimal mengawasi perairan Indonesia yang sangat luas karena jumlah arsenalnya minim. Luas keseluruhan ruang udara nasional sekitar 5,5 juta kilometer persegi, baik luas daratan dan lautnya.

“Pengawasan laut, jujur, belum optimal karena peralatan alutsista yang dimiliki tidak sebanding dengan luas wilayah yang diawasi,” ujar Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Agus Supriatna, pada Seminar Nasional tentang Penguatan TNI AU dalam Mendukung Poros Maritim Dunia, di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, 25/4/2016.
SU-34
SU-34
Pada satu sisi, Indonesia membuka koridor pelayaran di laut kedaulatannya untuk kepentingan layar damai internasional, baik untuk kapal-kapal sipil ataupun militer negara lain yang telah mengantungi ijin dari Indonesia sebelumnya. Ini dinamakan alur laut kepulauan Indonesia.

“Untuk mendukung poros maritim dunia dengan ALKI I, ALKI II, dan ALKI III, harus ada kekuatan udara yang bisa cepat hadir di mana saja,” ujar KSAU..

Marsekal Agus Supriatna memberi contoh, untuk menjaga perairan ALKI I yang melingkupi Laut China Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, dan Selat Sunda, paling tidak dibutuhkan empat pesawat tempur dalam status siap tempur, untuk misi patroli udara dan pengawasan ruang udara.

“Kalau kita berpikir ideal, kita bisa membayangkan berapa luas wilayah kita? ALKI I saja sudah luas,” ujarnya.

Dengan tiga ALKI, paling tidak diperlukan 12 pesawat tempur dalam status siap tempur. Ini sama dengan kekuatan satu skadron pesawat tempur. Untuk membiayai operasionalisasi dan perawatan semua kekuatan udara secara baik dan benar sesuai prosedur, tentu diperlukan biaya jauh dari murah.

Urusan pengadaan dan pembelian arsenal militer, adalah urusan Kementerian Pertahanan. Sebagai unsur pembina dan penyedia kekuatan, TNI AU hanya memberi spesifikasi teknis sesuai keperluan prajurit matra udara TNI AU.
Beriev Be-200
Beriev Be-200
Marsekal Agus Supriatna menyinggung pesawat terbang amfibi yang pernah dimiliki TNI AU saat masih bernama AURI. Untuk kepentingan masa kini, pesawat amfibi sangat pas dengan keperluan nasional untuk banyak misi.

“Masalah hasilnya pesawatnya apa, nanti tanyakan ke Kementerian Pertahanan. Kalau kami hanya spesidikasi teknisnya. Kalau kami membutuhkan seperti ini maka kebutuhannya seperti ini. Kami pernah punya pesawat amfibi,” tuturnya.

“Sejarah membuktikan pada 1950-1960, kami punya Albatros, PBY-5 Catalina. Digunakan seperti pada SAR KM Tampomas II pada 1980,” tuturnya.

Tentang seminar itu, KSAU katakan menjadi ajang mendiskusikan dan menganalisa kekuatan dan posisi TNI AU, sehingga dapat dilihat batas kekuatannya dalam mendukung tujuan poros maritim dunia.

Sistem pertahanan maritim, katanya, mampu menentukan TNI AL yang kuat dan juga perlu kekuatan TNI AU yang kapabel,” ujarnya.

Oleh karena itu, TNI AU harus dapat melingkupi semua aktivitas TNI AL. “Dengan seminar ini, semua peserta dapat menganalisa, dapatkah kekuatan yang ada sekarang mendukung atau bagaimana peran TNI AU mewujudkan poros maritim dunia ini?,” ujar Marsekal Agus Supriatna. (ANTARA News)

1 Response to "TNI Butuh Pesawat Tempur untuk Tegakkan Poros Maritim"

  1. Sukhoi 34 Sama F 16s Viper
    Cukup Kan Sukhoi 35
    Lihat Daya Jelajahnya

    BalasHapus

Thank you for your comments