Konflik Sabah, Menyulitkan Patroli Bersama RI, Malaysia dan Filipina

Ternate – Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, perusahaan pemilik kapal sepakat membayar uang tebusan untuk membebaskan 10 warga Indonesia yang disandera militan Abu Sayyaf di Filipina.

“Kemarin telah disepakati 50 juta Peso akan diserahkan di suatu tempat,” ujar Luhut di Ternate, Maluku Utara, Selasa (19/4/2015).
Perang Sabah
Perang Sabah
Meski demikian, ujar Luhut, proses negosiasi hingga saat ini masih terus berlangsung. Rabu atau Kamis ini masih ada lagi pembicaraan antara kedua pihak.

Kini, ada total 14 orang yang disandera Abu Sayyaf di Filipina. Empat orang di antaranya baru ditangkap pada Jumat pekan lalu.

Menko Polhukam belum bisa berkomentar banyak mengenai penyanderaan empat orang yang terjadi belakangan ini.

“Yang empat orang masih kami usut. Yang 10 ini (negosiasinya) masih lebih lancar dibandingkan yang empat,” ujar Luhut.

Luhut Pandjaitan meyakini tidak ada tenggat waktu yang benar-benar dikehendaki para militan. Alasannya, mereka membutuhkan uang tebusan untuk pembebasan para sandera tersebut.

“Diduga pembajakan itu masalah seperti di Somalia dan bukan masalah ideologi,” ujar Luhut.

Patroli Bersama

Maraknya kasus penyanderaan di perairan yang menghubungkan beberapa negara ASEAN membuat militer Indonesia, Filipina dan Malaysia berenca menggelar berpatroli bersama. Namun untuk merealisasikan rencana tersebut bukan hal mudah.

“Filipina dengan Malaysia masih dispute (sengketa) soal Sabah,” ujar Luhut. Karena itu, kerjasama untuk melakukan patroli bersama tidak bisa begitu saja tercapai. Rencananya ketiga pihak akan bertemu untuk membicarakan hal tersebut.

“Tanggal 3 (Mei) kami akan mengundang dua menlu dan dua panglima untuk duduk bersama-sama,” ujar Menko Polhukam. (CNNIndonesia.com)

0 Comment "Konflik Sabah, Menyulitkan Patroli Bersama RI, Malaysia dan Filipina"

Poskan Komentar