Friday, 1 August 2014

Alutsista Kini, Eranya F-16 C/D 52ID

"Threats Never Stop Evolving. Neither Does the F-16. (Ancaman tak pernah berhenti berkembang. Demikian juga F-16.)" -- Lockheed Martin, pembuat jet tempur F-16

Setelah menempuh perjalanan panjang, juga setelah lewatnya pro-kontra pengadaannya empat tahun silam, jet tempur F-16 yang didapuk dengan seri F-16 C/D 52ID TNI Angkatan Udara ini pada Jumat (25/7/2014) lalu tiba di Tanah Air, tepatnya di Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun (Kompas, 26/7/2014). 

Tiga dari 24 pesawat yang dipesan terbang dari Guam selama 5 jam 16 menit dengan pengisian bahan bakar di udara oleh tanker KC-10 dari Pangkalan AU Yokota di Jepang.

Penerbangan yang diberi kode Viper Flight ini, seperti disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto dalam siaran pers, dipimpin oleh Kolonel Howard Purcell dengan pesawat bernomor ekor TS-1625, diikuti oleh Mayor Collin Coatney dan Letkol Firman Dwi Cahyono (TS-1620), serta Letkol Erick Houston dan Mayor Anjar Legowo (TS-1623). 


Setiba di Lanud Iswahyudi, para awak F-16 mutakhir ini disambut oleh Panglima Komando Operasi AU II Marsekal Muda Abdul Muis, didampingi Komandan Lanud Iswahyudi Marsekal Pertama Donny Ermawan dan Kepala Proyek "Peace Bima Sena II", yang menaungi pengadaan F-16 baru ini, yakni Kolonel Tek Amrullah Asnawi.

Kepala Staf TNI AU Marsekal IB Putu Dunia, dalam menyambut kedatangan F-16 C/D 52ID, mengatakan, proyek "Peace Bima Sena II" merupakan bagian dari pembangunan Kebutuhan Pokok Minimal (MEF, Minimum Essential Force).

Bersama dengan 10 unit F-16 A/B yang sudah diperoleh Indonesia pada 1989, ke-24 F-16 baru diproyeksikan menjadi kekuatan utama Skuadron Udara 3 Lanud Iswahyudi, Madiun, dan Skuadron Udara 16 Lanud Rusmin Nuryadin, Pekanbaru.

Jet-jet F-16 diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan kemampuan kekuatan udara (air power) RI untuk menegakkan kedaulatan nasional. 


Pesawat tempur ini juga diharapkan bisa menjadi tulang punggung operasi pertahanan udara. Selain itu, juga sebagai penjamin keunggulan udara komando gabungan TNI dalam penyelenggaraan operasi darat, laut, ataupun udara.

Penguatan Blok 25

F-16 C/D 52ID yang diterima TNI AU berdasarkan kontrak senilai hampir 700 juta dollar (sekitar Rp 8 triliun), yang kesepakatannya ditandatangani pada Januari 2013, masih akan datang lagi secara bertahap hingga genap 24 pada minggu kedua Oktober 2015 (Kementerian Pertahanan).

Ditinjau dari evolusi F-16, tipe yang diterima Indonesia bukan dari tipe yang paling mutakhir. Tipe paling mutakhir F-16 E/F dimiliki oleh Uni Emirat Arab, yakni dari Blok 60, yang tergolong pesawat tempur generasi 4,5, sementara F-16 yang membentuk kekuatan udara AS dan sejumlah AU dunia lain dari Blok 50/52+ (Defense Industry Daily, 26/1/2014).

F-16 C/D 52ID sebenarnya berasal dari Blok 25 yang sudah tidak digunakan lagi di AS. Dalam proses upgrading dan refurbishment (peremajaan), F-16 Blok 25 ini dibongkar total di Ogden Air Logistics Center di Pangkalan AU Hill, Utah. 


Rangka pesawat diganti dan diperkuat, kokpit diperbarui, jaringan kabel dan elektronik baru dipasang. Semua sistem lama diperbarui dan mission computer yang menjadi otak pesawat ditambahkan. Tujuannya agar kemampuan jet meningkat setara dengan Blok 50/52.

Harapan itu didasarkan pada fakta bahwa yang jadi pusat pemutakhiran adalah pemasangan komputer misi MMC-7000A yang juga merupakan standar pada Blok 52+. 


Ada juga peningkatan kemampuan radar AN/APG-68. Selain itu, juga ada pemasangan Improved Modem Data Link untuk komunikasi data serta pemasangan Embedded GPS/INS yang menggabungkan fungsi GPS dan INS untuk penembakan bom JDAM. 

Jet baru TNI AU ini juga dilengkapi peralatan perang elektronik maju AN/ALQ-213 dan peralatan lain, seperti penerima peringatan radar dan set pelontar penangkalan (countermeasures) seperti chaff/flare anti radar/anti rudal.

Untuk mesin, F-16 C/D 52ID yang berbobot kotor maksimum 37.500 lbs menggunakan mesin Prat & Whitney F100-PW-220/E dengan daya dorong 24.000 lbs sehingga rasio dorongan terhadap berat (thrust-to-weight, T/W) menjadi 0,64. 


Bandingkan dengan Blok 52 dengan berat kotor maksimum 52.000 lbs dan ditenagai mesin F100-PW-229 dengan daya dorong 29.000 lbs. Di sini rasio T/W hanya 0,56, lebih kecil dibandingkan dengan F-16 C/D 52ID.

"Dalam close combat (pertempuran jarak dekat), F-16 TNI AU dengan T/W lebih besar memiliki kelincahan lebih baik daripada F-16 Blok 52," tulis Kolonel Agung "Sharky" Sasongkojati di Angkasa (Juli, 2014).

Kelebihan Blok 52, tambah Agung, adalah karena mesin lebih besar, ia bisa mengangkut senjata lebih berat. Karena bisa dipasang tangki bahan bakar ekstra (conformal) di punggung yang mampu mengangkut 600 galon, Blok 52 bisa terbang lebih jauh.

Di bagian senjata, selain rudal standar untuk pertempuran udara jarak dekat AIM-9 Sidewinder L/M/X, ia juga bisa dilengkapi rudal udara-ke-udara jarak sedang AMRAAM AIM-120 untuk memburu sasaran di luar pandangan mata (beyond visual range). 


Sementara untuk sasaran permukaan, F-16 baru dilengkapi dengan kanon 20 mm, bom MK 81/82/83/84, bom berpemandu laser Paveway, bom penghancur landasan Durandal, rudal anti tank Maverick AGM-65, rudal anti kapal Harpoon AGM-84, serta rudal anti radar HARM AGM-88.

Empat dekade sukses

Jika kini sudah 4.500 jet F-16 dibuat dan menjadi armada tempur 28 negara, kisah sukses jet yang dijuluki "Fighting Falcon" ini dimulai pada 2 Januari 1974. 


Saat itu, prototipe (purwarupa) F-16 yang bercat merah, putih, dan biru lepas landas dari Pangkalan AU Edwards di California untuk penerbangan udara resmi. 

Ini karena dua pekan sebelumnya, saat menguji di landasan, pilot penguji Phil Oestricher terpaksa harus mengudarakan pesawat setelah tiruan Sidewinder yang dipasang di ujung sayap nyaris menyentuh landasan.

Setelah itu, YF-16 yang kala itu masih dibuat General Dynamics (GD) berhasil memenangi kontes AU AS yang membutuhkan pesawat tempur ringan (Lightweight Fighter, LWF). Yang dikalahkan adalah YF-17 Cobra, yang kemudian bermetamorfosis menjadi F/A-18 Hornet yang dibuat Northrop (Show News, Farnborough, 15/7/2014, Lockheed Martin).

Setelah menang di AS dan kontrak diberikan untuk membuat F-16A (yang berkursi satu) dan F-16 B (berkursi dua) Januari 1975, pada Juni tahun itu pula Belgia, Belanda, Denmark, dan Norwegia juga memilih F-16. Mereka memesan 348 jet yang dibuat oleh Fokker di Belanda dan SABCA di Belgia berdasarkan kit yang diberikan oleh GD.

Pada Juni itu pula, purwarupa YF-16 kedua melakukan debut di Eropa ketika pilot penguji utama, Neil Anderson, menampilkan demo udara spektakuler di Paris Air Show, membuat negara-negara Eropa semakin jatuh hati pada pesawat tempur baru ini.

Kini, F-16 yang sudah punya 138 konfigurasi masih terus berevolusi menuju tipe lebih mutakhir, yakni F-16 Viper.


Sumber : Kompas
Read More..

OPM hadang TNI sebelum baku tembak di Lanny Jaya

Sekelompok anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) menghadang pasukan gabungan TNI yang sedang bergerak di Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Jumat sekitar pukul 11.00 WIT hingga terjadi baku tembak.

Pasukan gabungan yang terdiri dari anggota Kodim 1702/Jayawijaya, Yonif 756/Wi Mane Sili, Satuan Tugas Perbantuan, dan Denintel yang dipimpin oleh Dan Yonif 756/Wi Mane Sili dihadang OPM saat sedang menuju Pos Kotis Lanny Jaya.

Ketika itu pasukan gabungan TNI sedang akan mengejar kelompok OPM Enden Wanimbo, Rambo Wenda, dan Purom Okiman Wenda. Mereka kemudian dihadang OPM di Distrik Pirime hingga terjadi baku tembak dan dua anggota TNI terkena tembakan.

Salah satunya mengenai anggota Yonif 756/Wi Mane Sili, Pratu Rohman, dan lima anggota OPM juga tertembak.

Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua ketika dikonfirmasi wartawan Jayapura via telepon seluler Jumat siang membenarkan peristiwa itu.

"Memang benar ada penembakan di Lanny Jaya. Lima OPM tewas ditembak dan dua anggota kami terserempet peluru," katanya.

Hingga berita ini ditulis, Christian mengatakan baku tembak antara pasukan gabungan TNI dan anggota OPM wilayah Lanny Jaya masih berlangsung.

Sementara itu, dalam pernyataan via telepon seluler kepada wartawan di Jayapura, Enden Wandikbo dan Porum Wenda membantah jika ada anak buahnya yang tertembak.

"Tidak ada yang tewas kena tembak. Tapi honai (rumah adat) kami yang dibakar oleh TNI," kata mereka.


Sumber : Antara
Read More..

Baku Tembak dengan TNI, 5 OPM Tewas

Lima anggota kelompok separatis bersenjata OPM dikabarkan tewas saat baku tembak dengan personel TNI, Jumat 1 Agustus 2014. Baku tembak terjadi pukul 11.00 WIT di Distrik Pirime Kabupaten Lany Jaya, Papua.

Kelompok separatis dikabarkan melakukan penyerangan dan menembaki pasukan TNI sedang menggelar pergeseran. Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Mayjen Christian Zebua, membenarkan adanya aksi baku tembak tersebut.

"Sampai saat ini baku tembak masih terjadi, saya masih menunggu laporan perkembangan dari lapangan," ujar Zebua saat dikonfirmasi melalui telepon.

Ditambahkan Zebua, aksi baku tembak terjadi saat pasukan TNI dari Batalyon Infantri 756 Wi Mane Sili dan Anggota Kodim 1702 Jayawijaya sedang menuju Pos Komando Taktis di Lany Jaya.

Pasukan TNI dihadang kelompok OPM yang diduga pimpinan Enden Wanimbo, Rambo Wenda dan Puron Okiman Wenda, yang selama ini disinyalir melakukan serangkaian aksi penyerangan. Kontak senjata tak terhindarkan. Pangdam mengakui dalam aksi itu, ada dua anggota TNI yang tertembak.

"Ada dua anggota saya yang terkena serpihan peluru, salah satunya Pratu Rohman Caraka, anggota Yonif 756/WMS terkena serpihan peluru dibagian bokong," ujar Zebua.

Sementara dari kelompok OPM, ada 5 orang yang tertembak. Namun, belum bisa dipastikan apakah ada anggota kelompok separatis lagi yang terkena tertembak.

Sebelumnya, tepat  saat Idul Fitri berlangsung baku tembak terjadi di Lanny Jaya. Dua anggota polisi tewas dalam kejadian itu, dua lainnya tertembak dan empat anggota polisi yang ada di dalam rombongan tersebut selamat. 


Empat senjata api milik polisi dirampas, yakni berjenis  revolver dua pucuk, satu buah Moser dan satu jenis V5 Sabhara. Sementara Puron Okinawa Wenda, saat ingin dikonfirmasi, telepon selulernya sedang tidak aktif.

Sumber : Viva
Read More..

Lagi, Kontak Senjata di Lanny Jaya, Anggota TNI Terluka

Satu anggota TNI terluka dalam kontak senjata antara aparat keamanan dengan kelompok bersenjata kembali yang terjadi di kawasan Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Jumat (1/8/2014), sekitar pukul 10.30 WIT.

Hingga berita ini diturunkan, kontak senjata dilaporkan masih terus berlangsung, dan identitas anggota TNI yang terluka masih belum dapat diketahui.


Sumber : Kompas
Read More..

Indonesian attack craft complete test of C-705 missile system

The Indonesian Navy's (Tentera Nasional Indonesia - Angkatan Laut, or TNI-AL's) first two KCR-40-class attack craft, KRI Clurit and KRI Kujang , have completed sea acceptance tests of its C-705 surface-to-surface missiles' fire-control system.

According to a statement issued by the TNI-AL's Western Fleet Command (KOARMABAR) on 24 July, the tests, which included firing the missiles at a target, were carried out in the waters near Lingga Island, which is located about 200 km south of Singapore.

The TNI-AL has, however, stopped short of revealing further details of the fire-control system or the type of target engaged during these tests.

Sumber : Janes
Read More..