Thursday, 28 August 2014

Masuk Wilayah RI, 3 Pesawat Tempur Asing Ditangkap

Penangkapan tiga pesawat tempur jenis T-50 i Golden Eagle, dilakukan oleh pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30 milik TNI AU.

Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Wastum mengatakan, penangkapan tiga pesawat tempur ini dilakukan di atas laut Samudra Pasifik.

Sebelumnya radar jenis Thompson buatan Perancis di Biak menangkap keberadaan pesawat tempur asing yang masuk ke wilayah RI tanpa izin.

Sehingga, TNI AU mengerahkan pesawat pengintai Boeing 737 dan pesawat pengejar Sukhoi SU-27 dan SU-30 ke titik lokasi, di mana pesawat  tempur milik musuh berada.

Selama dua hari dilakukan pengejaran dan T-50 ini selalu luput dari pengejaran pesawat Sukhoi milik TNI AU. Pada hari hari ketiga pesawat asing jenis T-50 i Golden Eagle akhirnya tertangkap.

Kemudian dipaksa mendarat di Biak, di mana pasukan TNI AU telah bersiaga penuh.  Simulasi tersebut dilakukan dalam rangka operasi kesiapan pekan ketahanan udara.

Dilakukan dalam latihan perkasa D-14 yang akan dilaksanakan setiap tahunnya di berbagai daerah, dan kali ini wilayah Papua mendapatkan pelatihan tersebut.

"Latihan perkasa D-14 ini akan dilakukan setiap tahunnya di empat daerah di Indonesia," kata Letkol Pnb Wastum di Jayapura, Papua, Selasa (26/8/2014).

"Saat ini di Lanud Manuhua Biak, yang mendapatkan latihan D-14 tersebut. Sedangkan Lanud Jayapura berfungsi sebagai penimbul situasi, di mana tiga pesawat T-50 i Golden Eagle ditempatkan," imbuhnya.

Dalam pelatihan ini, dikerahkan tiga pesawat tempur terbaru milik TNI AU yaitu T-50 Golden Eagle, sebagai pesawat musuh yang dipusatkan di Base Ops Lanud Jayapura.

Pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30 sebagai pesawat pengejar bermarkaskan di Lanud Biak, selanjutnya Boing 737 sebagai pesawat pengintai juga di tempatkan di Lanud Jayapura.

Selain itu, ada pesawat hercules yang di tempatkan di Lanud Jayapura untuk mengangkut pasukan TNI AU. Simulasi ini dilakukan di Papua sejak 25 hingga 29 Agustus 2014 mendatang. Di atas angkasa antara Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Biak.


Sumber : Sindo
Read More..

Indonesia Matangkan Pembangunan Simulator Sukhoi

Indonesia kini sedang mematangkan rencana pembangunan simulator Sukhoi, kata Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin di Beijing, Selasa. 


"Saat ini telah diinvetarisasi negara-negara mana saja yang akan terlibat dalam pembangunan simulator Sukhoi bagi pilot-pilot Sukhoi TNI Angkatan Udara. Setelah itu akan dipastikan kesesuaian dari simulator yang diajukan beberapa negara itu, dengan spesifikasi yang akan digunakan penerbang Sukhoi TNI Angkatan Udara," ungkapnya. 

Berdasar catatan Antara, terkait rencana pembangunan simulator Sukhoi itu ada beberapa negara yang mengajukan termasuk Rusia dan Tiongkok, sebagai produsen dan juga pengguna pesawat jet tempur Sukhoi. 

Dari 11 negara yang mengajukan tersaring tiga negara yang sesuai spesifikasi teknik dan kebutuhan operasional TNI Angkatan Udara yakni Tiongkok, Kanada dan Slowakia. 

Untuk memastikan spesifikasi teknik dan kebutuhan operasional yang dimiliki masing-masing perusahaan di tiga negara itu, tim dari Indonesia tengah melakukan peninjauan ke setiap perusahaan dari tiga negara itu. 

"Dua negara sudah ditinjau yakni Kanada dan Slowakia, sedangkan Tiongkok dalam waktu dekat," kata sumber Antara di Mabes TNI Angkatan Udara. 

Para penerbang pesawat jet tempur Sukhoi TNI Angkatan Udara melakukan pelatihan simulator Sukhoi di Tiongkok sejak 2007, dengan materi latihan simulator Sukhoi yang telah ditingkatkan dari materi dasar ke latihan simulasi tempur. 

Hingga kini sudah ada delapan penerbang Sukhoi TNI Angkatan Udara yang mengasah keterampilan dan keahliannya di Negeri Panda. 

Sumber : Sindo
Read More..

Dari Inggris Singgah di Jeddah, KRI Bung Tomo Perkuat Pertahanan Laut RI

Kapal perang Republik Indonesia (KRI) Bung Tomo 357 singgah di Pelabuhan Jeddah, Rabu (20/8/2014). Dalam pelayarannya menuju tanah air, KRI Bung Tomo dipimpin Komandan Kolonel (laut) Yayan Sofiyan, membawa ABK sebanyak 87 personel yang terdiri dari strata pangkat Perwira, Bintara, Tamtama, ditambah dengan 5 orang sipil dari warga negara asing sebagai teknisi kapal.

Kapal Perang terbaru buatan Inggris tipe fregat ringan atau Multi Role Light Frigate (MRLF) ini sandar di Pelabuhan Jeddah sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Usai sandar, Komandan kapal beserta ABK disambut oleh Konjen RI Jeddah, Dharmakirty SP beserta jajarannya dan Atase Pertahanan KBRI Riyadh, Kol. Chb. Roedy Roemin.

Selama transit di Jeddah, Kamis (21/8/2014), kegiatan ABK diantaranya melakukan kunjungan kehormatan Komandan KRI Bung Tomo kepada Komandan Armada Barat, Kepala Otoritas Pelabuhan, Kepala Satuan Pengamanan Pelabuhan dan Kepala Konjen RI Jeddah. Selain itu, ABK juga melaksanakan ibadah umrah dilanjutkan dengan ziarah ke Kota Madinah Al-Munawwarah.

Esoknya, Jumat (22/8/2014), ABK diagendakan acara coctail party di atas geladak kapal dan mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan selama sandar di Pelabuhan Jeddah. Kegiatan tersebut, dihadiri oleh Dubes RI Riyadh , Bapak Abdurrahman Muhammad Fachir, Konjen RI Jeddah, Bapak Dharmakirty SP, serta Atase Pertahanan KBRI Riyadh, Kol. Chb. Roedy Roemin.

Hari berikutnya, Sabtu (23/8/2014), pukul 08.00 waktu setempat KRI Bung Tomo 357 kembali melanjutkan perjalanannya ke Indonesia. Sebelum sampai ke Indonesia, KRI Bung Tomo 357 singgah kembali di beberapa kota pelabuhan, yakni Salalah (Oman) dan Cochin (India).

KRI Bung Tomo 357 merupakan sebuah kapal perang yang dilengkapi dengan sistem persenjataan mutakhir, seperti peluru kendali anti kapal permukaan MM 40, peluru kendali anti serangan udara Sea Wolf, meriam 76 mm, meriam 30 mm, dan torpedo anti kapal selam. 


Dengan memiliki berat 1.941 ton, dengan panjang 95 meter, lebar 12,7 meter, dan dilengkapi sistem pendorong empat motor pokok CODAD (Combined diesel and diesel) yang mampu berlayar dengan kecepatan maksimum 31 knots dan jarak jelajah 9,000km, KRI Bung Tomo didukung juga oleh sistem kendali persenjataan, navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan baik, kapal jenis MRLF tersebut dirancang untuk mampu bertempur menghadapi ancaman baik dari atas air, bawah air maupun udara.

Selain itu, KRI Bung Tomo 357 merupakan salah satu dari tiga kapal perang canggih yang dibeli Indonesia yang kini tengah dalam perjalanan dari Inggris menuju Indonesia. Kedua KRI yang menyusul yakni KRI Jhon Lie 358 dan KRI Usman Harun 359 yang direncanakan juga akan singgah di Pelabuhan Jeddah pada tanggal 1 September 2014. Ketiga kapal tersebut akan memperkuat sistem pertahanan laut Indonesia dalam rangka menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah NKRI.


Sumber : Detik
Read More..

Kunjungan SASTIND dan China Defence Industri dalam rangka mengetahui kompetensi PT. Len Industri (Persero) dalam Bidang Elektronika Pertahanan

Dalam rangka kerjasama Industri Pertahanan (DICM) antara Kementrian Pertahanan dan The State Administration of Science Technology and Industry for National Defence (SASTIND) di Jakarta menghasilkan beberapa kerjasama yang berkaitan dengan PT. Len Industri (Persero) khususnya pada unit bisnis elektronika pertahanan.

Salah satu kerjasama yang akan dilakukan Len adalah joint development UAV mission system yang akan dikembangkan bersama ALIT (Aerospace Long-March International Trade Co)”. 

“Alasan dipilihnya Len adalah dikarenakan kemampuan len yang cukup mumpuni dalam elektronika merupakan salah satu dari yang terbaik di Indonesia” ujar Manager Komunikasi Korporasi Len Dadi Meysuhadi. 

Menindak lanjuti hal tersebut pada tanggal 22 agustus 2014 delegasi dari China yang terdiri dari SASTIND, Kedutaan Besar China dan Industri Pertahanan China datang berkunjung untuk mengetahui secara langsung kompetensi dan kemampuan Len dalam bidang elektronika pertahanan. 

Delegasi China ini didampingi oleh tim dari Kementrian Pertahanan dan diterima langsung oleh Direktur Pemasaran Len Adi Sufiadi Yusuf.

Setelah disambut delegasi kemudian melakukan diskusi di Ruang Rapat Besar Len, dimulai dengan pemaparan mengenai Len oleh Direktur Pemasaran dan kemungkinan - kemungkinan kerjasama yang dapat dilakukan antara China Defense Industri dan Len. Delagasi dari Cina sangat ingin mengetahui mengenai bagaimana perjalanan Len dari lembaga penelitian hingga bisa menjadi perusahaan yang besar sekarang. 

Sehingga menyebabkan tanya jawab antara delegasi dan tim dari Len cukup intens . Diharapkan kunjungan ini bisa membuka pasar yang lebih besar bagi Len dan yang pasti dapat memberi jalan bagi Len untuk menjadi perusahaan yang go International.

Sumber : LEN
Read More..

PT LEN peroleh kontrak ekspor perangkat lunak kapal perang


PT Len Industri (Persero) mendapat kontrak ekspor perangkat keras kapal perang jenis perusak kawal rudal (PKR) atau fregat untuk kedua kalinya dengan bekerja sama dengan perusahaan multinasional, Thales Belanda.

"Proyek ini memberi warna baru dalam bisnis LEN, menjual jam kerja yang akan memberikan persentase keuntungan signifikan sekaligus strategis dalam pengembangan teknologi industri pertahanan," kata Direktur Utama PT Len Industri, Abraham Mosse, seusai penandatanganan dengan Thales Netherlands, di Bandung, Selasa.

Penandatanganan kontrak oleh Mosse dengan CEO Thales Netherlands, Gerben Edelijn, disaksikan anggota Komite Kebijakan Industri Pertahanan, Marsekal Madya TNI (Purnawirawan) Eries Heryanto.

Menurut Mosse, penandatanganan kerja sama itu untuk lebih memperkuat kerja sama di bidang Naval Combat Management System (CMS) dan Combat Sistem Integration (CSI) masa depan khususnya program perusak kawal rudal atau fregat.

"Kerja sama ini untuk perangkat CMS di kapal fregat. Pemerintah membeli dua kapal jenis itu dimana PT Len dan Thales menggarap perangkat CMS yang mengintegrasikan sistem komunikasi di kapal itu," katanya.

Pengadaan kapal perang itu dilakukan pemerintah bekerja sama dengan galangan kapal Belanda, Damen Schelde Nabal Shipbuilding, serta Thales Netherlands sebagai pemimpin di subsektor sensor integrator, weapon and command (Sewaco).

Khusus untuk kontrak kerjasama kedua, kata Mosse, berisi pengembangan perangkat lunak sting EO Tracker, Mass Decoy Launcher, dan VL-MICA Surface-to-Air Missile.

Sementara itu Kepala Bidang Industri Pertahanan PT LEN, Nurman, menyebutkan, proyek ini sangat strategis karena memungkinkan pengembangan sistem ICT dan komunikasi arsenal lain.

"Khusus untuk CMS kapal fregat, ini langkah strategis, karena masih banyak kapal yang perlu sistem itu. Khusus untuk proyek kerja sama ini total nilainya mencapai 2 juta euro," kata Nurman.

Saat ini, menurut dia, PT LEN menjadi satu-satunya perusahaan di dalam negeri yang telah berhasil membuat CMS dan telah memasangnya di tiga fregat kelas Van Speijk TNI AL, KRI Yos Sudarso-353, KRI Oswald Siahaan-354 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma-354.

Sementara itu CEO Thales Netherland, Gerben Edelijn, menyebutkan pihaknya akan memanfaatkan kerja sama dengan Len sebagai bagian kerja sama jangka panjang dan untuk menggarap sejumlah proyek lainnya di Indonesia.

"Thales memiliki pengalaman di sektor software industri pertahanan, dan Len merupakan perusahaan kompeten di Indonesia dan menjadi mitra strategis ke depan," kata Edelijn.


Sumber : Antara 



Kontrak Ekspor Perangkat Lunak Kapal Perang oleh LEN

Kementerian pertahanan RI melalui Program Kredit Ekspor melakukan pengadaan kapal kombatan jenis PKR (Perusak Kawal Rudal) sebanyak 2 (dua) kapal. Pengadaan kapal PKR dimaksudkan untuk lebih memperkuat armada kapal kombatan TNI AL, guna menjaga dan mengamankan kedaulatan wilayah perairan Indonesia yang sangat luas. 

Pemenang tender PKR adalah shipyard dari Belanda, yaitu Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), berpartner dengan sebuah perusahaan elektronika pertahanan terkenal dari Belanda, yaitu Thales Nederland (TNL) sebagai Lead Integrator SEWACO (Sensor, Weapon, and Command). 

Untuk mematuhi regulasi pemerintah, sesuai UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan, yang mengharuskan adanya local content dan offset dalam setiap pengadaan alutsista dari luar negeri, maka Thales Nederland menjalin kerja sama dengan PT Len Industri (Persero) dalam pekerjaan pembuatan Combat Management System kapal PKR ini. Len berhasil mendapatkan kontrak pengembangan dan produksi software kapal perang untuk pasar ekspor Belanda 
 
Len berhasil mendapatkan kontrak ekspor software kapal perang dari Thales Nederland untuk pertama kalinya pada bulan Oktober 2013. Kontrak pertama berupa Development, Production, Testing and Supply of Software untuk CMS kapal perang PKR telah berhasil diselesaikan tepat waktu oleh Len pada bulan April 2014. Pada kontrak pertama tersebut, Len telah merampungkan kegiatan TOKAT (Transfer of Knowledge and Technology), dan pekerjaan Pengembangan, Produksi dan Testing Integration software IFF (Identification Friend and Foe).

Dengan keberhasilan Len pada kontrak pertama, maka Len kembali mendapat kontrak dari Thales Nederland pada bulan Mei 2014. Kontrak kedua ini akan diselesaikan dalam jangka waktu 8 (delapan) bulan, yang mencakup: pengembangan, produksi dan testing integration software untuk EO Tracker, Decoy Launcher dan SAM.

Kontrak kerja Len dangan Thales Nederland tersebut telah memberikan warna baru dan era baru bagi Len, terutama dalam kiprahnya di sektor pertahanan. Dengan kontrak kerja tersebut, berarti Len telah dipercaya oleh industri pertahanan kelas dunia, seperti Thales Nederland. Dengan kontrak tersebut berarti Len juga mulai memasuki arena pasar global, melalui kerjasama dengan industri pertahanan multi nasional.

Software yang dikembangkan dan diproduksi oleh Len dalam kontrak tersebut, bukan saja digunakan untuk kapal PKR pesanan pemerintah Indonesia, melainkan juga untuk memenuhi pesanan dari negara lain. Keberhasilan Len dalam kontrak pengembangan dan produksi software kapal perang tersebut, akan membuka berbagai peluang baru, baik di pasar domestik maupun pasar global, khususnya bidang Naval Combat Management System (CMS) dan Naval Combat System Integration (CSI).

Pembaharuan MOU untuk Peningkatan Kerjasama Len dan Thales Nederland (TNL) Untuk lebih meningkatkan dan memperluas kerjasama strategis antara PT Len Industri dan Thales Nederland, maka pada tanggal 26 Agustus 2014 bertempat di PT Len Industri, telah dilakukan penandatanganan MoU antara PT Len Industri (Persero) dan Thales Nederland yang dilakukan oleh Direktur Utama Len, Abraham Mose dan CEO Thales Nederland, Gerben Edelijn.

MOU yang ditandatangani tersebut merupakan pembaruan dan pengembangan atas MOU sebelumnya. Dengan penandatanganan MoU ini, diharapkan, dapat lebih memperkuat kerjasama antara PT Len Industri dan Thales Nederland, di bidang Naval Combat Management Systems dan Naval Combat System Integration di masa depan, khususnya Program pembangunan PKR dan Program modernisasi Sewaco kapal-kapal yang dibangun oleh Thales Nederland, yang populasinya cukup banyak.

Adanya MoU dan Kontrak Kerja antara PT. Len Industri dengan Thales Nederland tersebut, membuktikan bahwa PT Len Industri telah dipercaya oleh Perusahaan Kelas Dunia yang bersifat Multinasional, khususnya di bidang Industri Pertahanan, melengkapi kepercayaan perusahaan Multinasional lain yang sebelumnya telah mempercayai PT Len Industri untuk bidang Industri ICT, dan Industri Railway Signaling System.

Hingga saat ini, PT Len Industri merupakan satu-satunya industri pertahanan di Indonesia yang telah berhasil mengembangkan, memproduksi dan menggelar CMS (Combat Management System) Dalam Negeri, yang telah digunakan secara operasional oleh TNI AL, KRI Kelas Ahmad Yani, yaitu KRI YOS, KRI OWA, dan KRI AHP.

Saat ini, Len juga mendapat kepercayaan dari Kemhan dan TNI AL untuk melaksanakan kontrak Pengadaan CMS Dalam Negeri sebanyak 2 (dua) kapal jenis Kapal Cepat Rudal (KCR), yaitu: KRI Rencong dan KRI Mandau, serta 2 (dua) kapal jenis Kapal Cepat Torpedo (KCT) yaitu KRI Ajak dan KRI Singa.

Keberhasilan Len dalam menyelesaikan kontrak pengembangan dan produksi software integrasi CMS Tacticos dari Thales Nederland, serta kemampuan Len mengintegrasikan CMS Dalam Negeri dengan peralatan sensor dan senjata eksisting, merupakan pondasi terpenting bagi Len dalam mengembangkan kemampuan dan penguasaan teknologi naval combat system integration.

Kemampuan Len dalam combat system integration tersebut, sedang dan akan terus ditingkatkan melalui litbang internal/nasional dan kerjasama strategis dengan industri SEWACO kelas dunia, seperti dengan Thales Nederland.

Sumber : ARC
Read More..