Sunday, 20 April 2014

Kapal Trimaran Baru di DSA 2014

Pameran produk pertahanan DSA 2014 di Kuala Lumpur Malaysia menghadirkan kejutan dari
Perusahaan Galangan Kapal North Sea Boats (PT. Lundin). Bersama SAAB Swedia (16/04/2014), PT Lundin menampilkan desain baru Trimaran FMPV (Fast Missile Patrol Vessel) 63 m, yang dipesan Angkatan laut Indonesia.

Dalam pembicaraan dengan situs Navy Recognition, SAAB Swedia menyatakan akan menginstal radar laut modern Giraffe 1x 3D, yang memiliki jangkauan lebih baik dan mampu meredusir efek lengkung bumi.

Booth SAAB dalam Pameran Persenjataan di DSA 2014
                       Booth SAAB dalam Pameran Persenjataan di DSA 2014

Radar baru ini hanya memiliki berat 150 kilogram. Pemasangan radar baru Giraffe menyebabkan desain trimaran yang baru berbeda dengan desain sebelumnya.

Tiang utama trimaran (the mast) akan mengintegrasikan radar, ESM dan sistem komunikasi. Kini North Sea Boats telah menandatangani kontrak kerjasama dengan SAAB Swedia untuk proyek trimaran yang baru, pasca kasus terbakarnya trimaran pertama saat diluncurkan tahun 2012.

Radar  Sea Giraffe 1X 3D yang ringan memungkinkan arsitektur kapal mendesain tiang kapal yang lebih tinggi untuk meningkatkan performa radar

Radar Sea Giraffe 1X 3D yang ringan memungkinkan arsitektur kapal mendesain tiang kapal yang lebih tinggi untuk meningkatkan performa radar (navyrecognition.com)
SAAB menawarkan diri untuk mengerjakan seluruh sistem persenjataan dan radar dari Trimaran yang baru, termasuk versi ekspor-nya dengan nama “Stealth FAC” (Stealth Fast Attack Craft).

Menurut perwakilan SAAB, Trimaran yang baru akan dilengkapi:

4x RBS15 Mk3 anti-ship missiles
1x BAE Systems 40Mk4 gun under a stealth cupola
A stern ramp to deploy a 12 meters RIB
SAAB’s 9LV combat management system
SAAB’s Ceros 200 radar and optronic tracking system
SAAB’s TactiCall Integrated Communications System

Rudal RBS15 Mk3 yang ditawarkan SAAB, jenis jelajah subsonik fire-and-forget yang mampu dioperasikan dalam segala kondisi cuaca dengan jangkauan 200 km. Sementara versi original dari Trimaran (KRI Klewang yang terbakar), didisain lebih condong ke sistem dan persenjataan dari Tiongkok.

Meski demikian, perwakilan PT Lundin di DSA 2014 mengatakan kepada Navy Recognition, Angkatan Laut Indonesia masih mengevaluasi senjata dan sensor apa yang cocok diinstal di Kapal Trimaran yang baru.

Konstruksi dari Trimaran FMPV 63m dimulai bulan Februari 2014 di

North Sea Boats facility Indonesia. Kapal dengan desain baru ini akan diluncurkan 24 bulan mendatang. Menurut SAAB, versi lebih lanjut (future version) dari trimaran akan memiliki kemampuan anti-kapal selam, anti-submarine warfare suite (weapons + sensors).


Navy Recognation mencoba menanyakan kepada perwakilan BAE Systems Bofors yang ikut pameran di DSA 2014 Malaysia. Menurut mereka menjual 4 sistem naval gun kepada Angkatan Laut Indonesia, sekaligus ekspor pertama dari sistem naval gun baru yang diproduksi oleh BAE.

Saat ini BAE system memproduksi 4 naval gun 40Mk4 untuk empat kapal TNI AL, namun secara /keseluruhan bisa 30 unit akan diproduksi untuk Angkatan Laut Indonesia. (Naval Recognation.Jkrtgreter)
Read More..

PRAJURIT YONMARHANLAN IX AMBON LATIHAN NAVIGASI LAUT

Segenap prajurit Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) IX Ambon melaksanakan latihan Navigasi Laut di Dermaga Beijing Lantamal IX Ambon, Kamis (17/04/2014).
 
Kegiatan yang dipimpin langsung Danyonmarhanlan IX Mayor Marinir Datuk Sinaga ini merupakan latihan LPD/LPK TW. II TA. 2014. 

Tujuan latihan ini adalah sebagai pembinaan secara berkala dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan kemampuan profesionalisme prajurit Yonmarhanlan IX, sehingga prajurit mampu memenuhi persyaratan dalam melaksanakan tugas yang diemban baik di darat maupun di laut.

 
Dalam materi latihan tersebut, prajurit Yonmarhanlan IX dituntut untuk mampu menentukan, membaca, dan mencari koordinat yang ditentukan serta mengorientir peta dengan menggunakan Kompas dan GPS, serta mempraktekannya dengan medan sesungguhnya yang sudah ditentukan dan disiapkan oleh bagian Operasi Latihan yang dipimpin Pasiops Yonmarhanlan IX Kapten Marinir Erwin Triyulianto.

Dengan berbekal Peta, GPS dan Kompas, prajurit Yonmarhanlan IX yang dibagi beberapa Tim, bergantian menyeberangi Teluk Ambon menggunakan 2 perahu karet untuk menemukan sasaran yang berisi informasi tentang koordinat selanjutnya.
 

Danyonmarhanlan IX Mayor Marinir Datuk Sinaga, dalam arahannya menyampaikan bahwa latihan ini diselenggarakan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan maupun ketrampilan personel baik perorangan atau satuan agar tercapai tingkat kesiapan tempur dan operasional yang dipersyaratkan.

Lebih lanjut, Mayor Marinir Datuk Sinaga menekankan kepada seluruh prajurit, agar tetap memperhatikan aspek keselamatan dalam latihan, sebelum dan sesudah melaksanakan latihan diawali dengan berdo’a sehingga diberi keselamatan kesuksesan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

 
Usai latihan Navigasi Laut, dilanjutkan dengan lomba dayung perahu karet yang memperebutkan hadiah berupa uang pembinaan dari Danyonmarhanlan IX, dengan harapan agar terjaga kekompakan dan kerja sama serta suasana gembira ditempat latihan.

Sumber : Marinir
Read More..

Terbang Perdana NC-212-400 Buatan PT.DI

(photo: Noviarli Wahyudi)
Tanpa banyak publikasi, PT. Dirgantara Indonesia ternyata telah mencetak lagi sebuah prestasi. 

Pabrik pesawat asal kota Bandung ini ternyata menyelesaikan sebuah pesawat NC-212-400, pesanan pemerintah Thailand. 

Pesawat yang masih bercat dasar ini kini tengah menjalani uji terbang.




Terbang perdana pesawat jenis angkut ringan ini berlangsung pada pertengahan april lalu. Bertugas sebagai pilot uji adalah crew Airbus Military yang sebelumnya membawa C295 ferry flight dari Madrid. 

Mereka yaitu Pilot Capt. Alejandro Grande dan Capt.Rafaelde Diego Coppen, serta  Flight Test Engineer Eduardo Mayo Avila. Pesawat Take off  pada pukul 10:05 dan kemudian mendarat dengan selamat pada pukul 13:05 wib. Selama 3 jam pesawat dibawa terbang ke Pelabuhan Ratu serta area Bandung sekitarnya. 

 

PT DI sendiri secara resmi sekarang hanya punya 1 pilot tes karyawan tetap yaitu Esther Gayatri Saleh. Pilot uji perempuan ini tidak ikut karena belum punya lisensi C212-400. 

Namun saat ini Esther dan FTE PT DI sedang menjalani pelatihan di Bandung oleh instruktur Airbus Military untuk mendapatkan lisensi. 

Untuk penerbangan selanjutnya, dan setelah pemasangan lavatory, sistem avionik baru serta optional lain desain PT DI, uji terbang akan dilakukan oleh pilot & FTE PT DI. 

NC212-400 dapat dijadikan pilot project untuk program N219 karena konfigurasinya hampir sama. Perbedaan terdapat hanya pada ramp door, flaperon, horizontal fin lebih tinggi, pilot door seperti Cessna Grand Caravan & sistem avionik terbaru atau mungkin powerful engine. 

Produksi C-212-400 sendiri kini memang telah dialihkan ke Bandung, sementara Airbus sendiri lebih berkonsentrasi pada produksi pesawat yang lebih besar.

 

Sumber : ARC
Read More..

Saturday, 19 April 2014

Bakorkamla Tambah Enam Armada Kapal Patroli

Badan Koordinasi Keamanan Laut berencana menambah enam armada kapal patroli cepat untuk mendukung tugas operasional pengamanan perairan di beberapa wilayah di Indonesia.

Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Laksamana Muda TNI D Albert Mamahit kepada wartawan di Surabaya, Selasa, mengatakan pengadaan enam armada kapal patroli buatan dalam negeri itu dijadwalkan selesai tahun depan.

"Saat ini Bakorkamla baru memiliki tiga armada kapal patroli, sehingga ke depan akan ada sembilan kapal patroli yang siap dioperasionalkan," katanya usai membuka kegiatan "Penyegaran Komandan/Nahkoda Kapal Patroli dan Pengawak Satgas Operasi Bersama".

Mamahit menjelaskan enam kapal patroli baru tersebut, masing-masing berukuran 40 meter sebanyak tiga unit dan 80 meter juga tiga unit.

"Kapal ukuran 80 meter itu diproyeksikan untuk kegiatan patroli hingga wilayah terjauh sampai batas ZEE (zona ekonomi eksklusif)," tambahnya tanpa menyebut jumlah anggaran untuk pengadaan kapal tersebut.

Sedangkan tiga kapal patroli yang kini dimiliki Bakorkamla adalah Kapal Motor Bintang Laut, KM Singa Laut dan KM Kuda Laut.

Mamahit mengakui sarana dan prasarana menjadi salah satu kendala untuk mendukung kegiatan operasional pengamanan wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.

Namun, pihaknya fokus pada 15 titik strategis yang dianggap rawan terhadap munculnya tindak pelanggaran, terutama di wilayah perbatasan dengan negara tetangga. 


Sumber : Antara
Read More..

Kisah Mistis Prajurit Kopassus Tersesat di Hutan Belantara Papua

JAKARTA -Salah satu syarat untuk menjadi prajurit elite TNI AD, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) harus melewati berbagai tes rekruitmen yang sangat sulit.

Kegiatan recruiting itu dikenal di kalangan komando dengan istilah werving yang merupakan rangkaian tes kesehatan, fisik, akademi dan psikologi.

Setelah lulus seleksi, maka calon anggota terpilih akan dikirim ke Makopassus di Cijantung, Jakarta Timur untuk dipersiapkan mengikuti pendidikan komando di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Setelah dinyatakan lulus, prajurit Kopassus akan menerima penugasan di berbagai daerah, termasuk yang memiliki medan hutan yang sangat sulit seperti di Papua. Ada pengalaman mistik yang dibagi oleh Selvanus (bukan nama sebenarnya), seorang prajurit Kopassus yang sempat bertugas di Papua.

Seperti dikutip Okezone dalam buku Kopassus untuk Indonesia, karangan Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Saat itu Selvanus ditempatkan sebagai komandan pos di Timika yang waktu itu sangat rawan karena keberadaan pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM), Kelly Kwalik dan Thadeus Yogi.

Selvanus pun diperintahkan untuk menggerebek markas OPM yang berjarak enam hari jalan kaki dari markas Selvanus.

Tim yang dibawanya mulai berangkat ke lokasi pada bulan Oktober yang juga musim penghujan. Saat hari kelima, mereka bertemu sungai dengan arus yang sangat deras. Mereka pun memutuskan untuk menyeberang dengan menggunakan tali.

"Kebetulan saya jago renang. Jadi ketika saya lihat ada prajurit yang masuk ke pusaran air, saya juga ikut masuk dan menyelam," ucapnya.

Namun sampai suatu titik, sungai itu hilang dan menjadi air terjun. Selvanus pun menepi di tengah hutan Papua yang berada di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut.

"Lima orang sudah menyeberang, tiga belum menyeberang dan saya hanyut bersama si Kopral. Ini adalah satu-satunya motivasi saya untuk bertahan dan mencari Kopral itu," terangnya.

Saat ia keasyikan mencari prajurit tersebut, Selvanus tidak dapat kembali pulang. Dia pun tersesat di dalam hutan belantara.

"Di kepala saya, saya harus mencari arah ke Timika untuk melapor ke komandan dan melanjutkan mencari anak buah yang hilang," tuturnya.

Saat hari keenam, Selvanus sudah berada di ambang sadar. Semua perlengkapan termasuk sepatunya hanyut dibawa arus sungai yang deras.

"Hari keenam itu saya sudah melihat alam lain. Saya mulai mengobrol dan berkomunikasi. Mungkin itu hanya halusinasi saja. Namun anehnya, saya masih terus bisa berjalan, bahkan sampai hari kesebelas dan berhasil menyeberangi sungai dengan lebar 200 meter sebelum tiba di Timika. 


Dan akhirnya, Selvanus yang hilang di hutan Papua selama delapan belas hari, berhasil ditemukan oleh warga di Timika dengan selamat.

"Saat itu saya hanya tinggal tulang berbalut kulit, mata yang terus berputar liar dan telapak kaki yang bengkak akibat tertancap potongan kayu. Dokter yang memeriksa saya saat itu menyatakan bebas dari penyakit malaria dan cacing tambang," bebernya.

Setelah dinyatakan sehat, Selvanus diundang oleh Pangdam Cendrawasih ke Jayapura untuk menikmati makan malam.

"Anehnya, makanan satu meja itu semua habis saya makan sendiri. Saya makan banyak begitu bukan balas dendam, tapi rupanya ada yang 'ikut'. Tiba-tiba saya ingat bahwa saya selama di hutan memang selalu ditemani tiga orang. 


 Kalau matahari sudah terbenam, satu memijati kaki, satu memijati pundak dan satu lagi berbagi rokok dengan saya. Alamnya sudah lain," pungkasnya.

Sumber : Okezone
Read More..

Vicko: Mahasiswa Pembuat Peluru Frangible Pertama di Asia


vicko di indonesiaproud wordpress comVicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS yang memberanikan diri mengikutsertakan hasil riset tugas akhirnya berupa peluru frangible berhasil menjadi juara dalam lomba karya tulis bertemakan pertahanan nasional yang diadakan oleh TNI AD.

Vicko mengenalkan peluru frangible yang belum pernah diproduksi di Asia. Tak disangka, Vicko berhasil menyabet juara pertama dari 134 peserta yang berasal dari berbagai kalangan.


Bermula dari ajakan senior tiga tahun lalu untuk mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Vicko dikenalkan tentang peluru frangible yang memiliki berbagai keunggulan. Ia mengangkat riset tersebut dalam tugas akhirnya.

Di tengah Vicko melakukan riset, salah seorang temannya memberitahukan lomba yang diadakan TNI AD. “Kebetulan sekali saya sedang melakukan riset mengenai itu. Temanya pun mengenai sistem pertahanan nasional,” ujar Vicko.

Dalam pengerjaan peluru frangible, ia mengaku banyak dibantu oleh teman dalam tim riset tugas akhirnya, Paiman Joni. “Kami banyak berdiskusi dan terkadang mengerjakan bersama,” ujar Vicko. Selain itu, Vicko mendapat arahan dari dosen pembimbing risetnya, Dr Widyastuti SSi MSi yang telah terlebih dulu menekuni sistem pertahanan.

Vicko menjelaskan berbagai keunggulan peluru frangible, salah satunya adalah komposisi penyusun serbuk peluru. Jika biasanya timbal yang menjadi penyusunnya, Vicko menggantinya dengan tembaga. Pasalnya, timbal merupakan zat berbahaya jika sampai kontak langsung dengan manusia.

Menurut Vicko, peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih aman. ”Sebab, peluru biasa akan menimbulkan back-splash ketika membentur benda keras dan membahayakan orang sekitar,” ujar Vicko.

Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran.

”Pelurunya akan mancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme.

Dalam perlombaan itu sendiri, awalnya, Vicko tak mengetahui bahwa dirinya lolos menjadi 12 besar dari 134 peserta dengan kategori umum. Melalui info dari salah seorang temannya seminggu sebelum pengumpulan terakhir, ia baru mengetahuinya sehingga harus membuat produk jadi sesuai persyaratan lomba dalam waktu yang sebentar.

Merasa tidak sanggup, Vicko pun menghubungi pihak TNI AD bahwa Ia tidak siap mengikuti tahap selanjutnya. “Saya sudah pasrah kala itu. Hingga H-3 saya dihubungi pihak TNI AD bahwa saya harus mengikuti tahap selanjutnya di Jakarta 3 hari lagi,” ujar Vicko.

Tak ayal, dalam waktu yang singkat, Vicko hanya mampu membuat pellet peluru saja. Tak hanya itu, ketika akan melakukan presentasi, Vicko terjebak macet parah di Jakarta.

“Ketika saya datang, semua juri sudah bergegas pulang. Yang semula saya adalah kontestan pertama yang maju presentasi, akhirnya saya menjadi kontestan terakhir yang presentasi ketika itu,” kenang Vicko.

Namun, usahanya pun membuahkan hasil, Vicko menyabet juara pertama dalam ajang tersebut. Ia mengalahkan para kontestan lain yang lebih ahli. Para kontestan itu diantaranya mahasiswa S2, dosen, dan para ahli dalam bidang persenjataan.

Vicko pun berharap pemerintah dapat mengapresiasi karya-karya pemuda di Indonesia yang ia yakini sangat hebat. “Sayang sekali kalau tidak diapresiasi oleh negara sendiri. Kalau negara lain mengetahui kemampuan pemuda kita, pasti ditarik ke luar negeri,” ujar Vicko.

Diminati Pindad

Usai menjadi juara pertama dalam ajang yang berkaitan pertahanan dan keamanan nasional, hasil riset Vicko dilirik oleh perusahaan persenjataan milik Indonesia, PT Pindad (persero). 

Menurut Pindad, peluru yang sangat langka di Indonesia tersebut akan menjadi sesuatu yang baru dan unik dalam industri pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perusahaan ini menjanjikan untuk mengadakan uji tembak dalam waktu dekat.

Usai uji tembak, PT Pindad mencanangkan untuk produksi masal, tetapi hanya untuk case yang spesial. “Masih ada bimbingan lanjutan dari TNI AD. Jika terjalin kontrak kerjasama, akan dilakukan dengan persetujuan dari TNI AD dahulu,” ujar Vicko.

Sumber: its.ac.id (13/4/2014)/indonesiaproud
Read More..

TNI chief clarifies apology

SINGAPORE: Some 48 hours after his interview with Channel NewsAsia aired on Tuesday, the head of the Indonesian Armed Forces (TNI) has clarified an apology he made during the interview.

General Moeldoko said on Thursday that he had not apologised to the Singapore government for the naming of a warship after two Indonesian marines who bombed MacDonald House in Singapore in 1965.

Instead, he clarified that he was expressing his regret that the naming decision was final and would not be changed.

On Tuesday night, Channel NewsAsia aired an exclusive interview with General Moeldoko, during which he touched on the relations between Singapore and Indonesia, among other issues.

He was asked by Channel NewsAsia senior Southeast Asia correspondent Sujadi Siswo about the decision to name a warship Usman Harun after the two Indonesian marines, and the ties between the two countries.

"Once again I apologise. We have no ill intent whatsoever to stir emotions. Not at all. Second, relations between the two countries are on the mend. There've been communications among leaders. Singapore's Chief of Defence and I have spoken," General Moeldoko had said.

Following the airing of the interview, General Moeldoko posted a link to the Channel NewsAsia story on his own Facebook page. There was, however, a mixed reaction. He was questioned by some Indonesians as to why he had apologised.

These posts have since been removed from General Moeldoko's Facebook page.
On Wednesday, Singapore's Defence Minister Ng Eng Hen welcomed General Moeldoko's comments, and said the Singapore Armed Forces will resume bilateral cooperation with the TNI.

Earlier Thursday, General Moeldoko spoke to Indonesian media at the President's Office in Jakarta before a Cabinet session to clarify his views. He said that the apology had been for the fact that the decision to name the ship was final and would not be changed.

The head of TNI's public affairs had also written to Channel NewsAsia, citing the right of reply to clarify the comments by the TNI chief so that there would be "no misinterpretation and misperception."

Echoing General Moeldoko's comments to the Indonesian media, the public affairs head said that "the TNI Commander was expressing his regrets that the naming was final and would not change."

The letter was copied to the chiefs of staff of the Indonesian Army, Navy, Air Force, and the head of TNI Intelligence.

Sumber : Chanelnewasia
Read More..

Tim COE inspeksi perlengkapan Kontingen Garuda TNI di Lebanon

Tim COE (Contingent Owned Equipment) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) melakukan inspeksi terhadap perlengkapan Kontingen Garuda TNI di Lebanon, yaitu Satgas Indo FPC (Indonesia Force Protection Company) TNI Kontingen Garuda XXVI-F2/Unifil dan Satgas FHQSU (Force Headquarter Support Unit) Kontingen Garuda XXVI-F1/Unifil, di lapangan Sudirman Camp, Naqoura, Lebanon Selatan.

Tim COE Unifil yang berasal dari kalangan sipil dan militer serta mempunyai latar belakang spesialisasi sesuai bidang masing-masing dipimpin Mr. Ajmal Khan. Kedatangannya beberapa waktu lalu itu disambut langsung oleh Komandan Satgas Indo FPC, Letkol Inf Aulia Dwi Nasrullah, didampingi Perwira Seksi Logistik (Pasilog) Satgas, Kapten Inf Angga Nugraha beserta para perwira staf, di ruang briefing Sudirman Camp Green Hill, Naqoura.

Kegiatan inspeksi meliputi perlengkapan Komunikasi yang terdiri dari radio komunikasi VHF/UHF-FM, HF dan Telephone. Untuk Engineer meliputi Accomodation, Minor Engineering, Field Defense Stores dan Electrical.

Untuk bidang Transport meliputi Support Vehicle and Trailers serta MTO meliputi EOD (Explosive Ordnance Disposal), Armaments, Ammunition, Combat Vehicles dan Logistics Equipment.

Sedangkan inspeksi Force Medical meliputi Medical, Hygiene dan Sanitiation serta terakhir Force Fire Marshal meliputi Basic Fire fighting dan Fire Detection serta Alarm System.

Unifil sebagai perwakilan PBB di wilayah Lebanon menuntut seluruh satuan yang dikirimkan oleh negara-negara pengirim atau Troops Contributing Country (TCC) memiliki kesiapan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan, baik kesiapan personel, materiil maupun perlengkapannya.

Pada pemeriksaan COE kali ini, Satgas Indo FPC Kontingen Garuda XXVI-F2/Unifil dan Satgas FHQSU Kontingen Garuda XXVI-F1/Unifil merupakan inspeksi periodik yang kedua, sehingga dengan pengalaman COE sebelumnya telah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik. Dari keseluruhan inspeksi yang dilakukan oleh Tim COE, secara umum berjalan dengan lancar dan memuaskan.

Ketua Tim COE Mr. Ajmal Khan pada kesempatan de-briefing, menyampaikan terimakasih atas kesiapan, pelayanan, koordinasi serta kerjasamanya selama inspeksi sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melaksanakan pemeriksaan. “Hasil dari seluruh rangkaian kegiatan pemeriksaan secara umum, Kontingen Garuda TNI memenuhi standar inspeksi terhadap kesiapan operasional ini”, ujarnya.

Sementara itu, Komandan Satgas Indo FPC, Letkol Inf Aulia Dwi Nasrullah mengucapkan terimakasih kepada seluruh anggota, terutama staf yang terlibat langsung dalam kegiatan ini. 

Sumber : Lensaindonesia
Read More..

Kasau: Membangun kekuatan nasional Air Power

Kasau Marsekal TNI I B Putu Dunia  menyampaikan soal pembahasan tentang kedaulatan udara merupakan suatu  prioritas bagi keamanan nasional suatu negara, ini tema seminar Air Power 2014 yang telah di prakarsai oleh Air Power Centre of Indonesia, dalam rangkaian 

peringatan ke-68 tahun Angkatan Udara pada tahun 2014,di nilai sangat tepat karena tema tersebut terkait  langsung dengan pemikiran strategis pimpinan TNI Angkatan Udara baik menyangkut tentang konsep maupun implementasinya, dalam penyelenggaraan Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Dalam bersaing dengan negara lain memperjuangkan kepentingan nasional kita harus mampu mengoptimalkan Instrumen Kekuatan Nasional kita yaitu Diplomasi, Informasional, Militer dan Ekonomi secara cerdas dan sinergis. 

Kita harus bisa memadukan  instrumen Militer dan Ekonomi sebagai unsur Hard Power dikombinasikan dengan instrument Diplomasi dan Informasional sebagai unsur Soft Power menjadi strategi cerdas dan ampuh yang dikenal sebagai  Smart Power,”kata Kasau saat membuka seminar International Air Power di di klub Eksekutif Persada Purnawira, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis,( 17 /4/14).

Menurut Kasau, Agar kemampuan Smart Power bangsa kita menjadi kuat maka mau tidak mau kita harus memajukan kekuatan militer.  Itu sebabnya Kekuatan Dirgantara atau  Air Power yang kuat adalah hal mutlak dan harus dikelola dengan baik. 

Tanpa memiliki Air Power yang kuat maka kita tidak memiliki Deterrence Power sehingga kita bisa mengoptimalkan instrumen kekuatan nasional kita dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain untuk memperjuangkan kepentingan nasional bangsa Indonesia.

“Kita harus menyadari eksistensi ruang udara dan dirgantara nasional sebagai wilayah kedaulatan dan sekaligus wilayah kelangsungan hidup bangsa, karenanya segenap komponen pertahanan negara, harus merasa terpanggil untuk bersama-sama mewujudkan suatu postur National Air Power yang handal,”ujarnya.

Kasau menjelaskan, Membangun kekuatan National Air Power yang diinginkan tentunya tidak bisa dalam jangka waktu singkat, namun tidak bisa juga menunggu sampai musuh datang menyerang. Perlu adanya sebuah konsepsi strategis bersama terkait dengan tujuan, kepentingan, sasaran, kebijakan dan komitmen serta program-program yang realistis, berlanjut dan berkesinambungan.

” Oleh karena itu kebijakan pertahanan negara selalu diarahkan pada tiga tujuan fundamental yaitu perlindungan wilayah atau teritorial, kedaulatan, dan keselamatan bangsa. 

Dalam konteks Negara Indonesia, upaya di atas harus memperhatikan dua faktor penting yang perlu mendapat perhatian. Bahwa TNI AU yang berusia 68 tahun bertugas mengawal dirgantara Indonesia, namun sampai saat ini masih dalam proses pencapaian untuk memiliki kemampuan Air Power yang handal, “ ungkap Kasau.

Meskipun TNI Angkatan Udara (AU) sangat perduli dan serius dalam menjalankan tugas pokoknya,”  Tetapi masih ada pihak-pihak yang melihat bahwa sepertinya kurang responsif dalam melaksanakan tanggung jawab menjaga, mengendalikan dan mempertahankan wilayah kedaulatan udara kita,”jelasnya.

Sumber : Lensaindonesia
Read More..

TNI Rencanakan Bentuk Yonif 0612/Modang di Kubar

TNI melalui Kodam VI/Mulawarman berencana mendirikan markas batalyon Infanteri (Yonif) 612/Modang serta dua kompi senapan di wilayah Kubar. 

 Wilayah Kubar yang akan diusulkan pendiriannya yaitu wilayah kecamatan Mook Manaar Bulatn, Bongan dan Bentian Besar.
 
Rencana Pembentukan Yonif 612/Modang ini dipaparkan Komandan Kodim 0912 Kubar Letkol Deni Rejeki dalam pertemuan dengan pemkab Kubar yang diwakili Sekretaris Kabupaten Kubar Aminuddin, di ruang diklat lantai 3 kantor bupati Kubar, Rabu (19/3).) 

Hadir, Asisten I Pemerintahan, Hukum dan Humas sekaligus moderator Edyanto Arkan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kubar Finse Allotodang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kubar Achmad Sofyan, para Camat wilayah terkait, serta perwakilan Badan Pertanahan Nasional Kubar.

Deni Rejeki mengatakan, pembentukan Yonif 0612/Modang merupakan salah satu respon dari berbagai isu kedaualatan negara yang berada di wilayah perbatasan. “Misalnya wilayah Long Apari dahulu masih wilayah Kubar yang berbatasan langsung dengan Malaysia dianggap memiliki kerawanan kedaulatan, meski sekarang telah menjadi bagian Mahakam Hulu. 

Pembentukan ini mencermati pula berbagai isu ancaman yang dihadapi Kodam VI/Mulawarman dan perkembangan sosial masyarakat Kubar, sekaligus mewujudkan postur TNI angkatan Darat yang profesional, efektif, efisien, modern dan berwawasan kebangsaan,” tuturnya.

Deni menyebutkan, berdasarkan kajian yang telah dilakukan TNI sebelumnya, markas komando Yonif 612/Modang terdiri dari Koyon, Kima dan Kibant, dan dua kompi senapan dengan total 601 personil. 

Dengan sarana yang akan dibangun  yaitu perkantoran, perbekalan kesehatan, pemeliharaan, perumahan, ibadah, olahraga lapangan tembak, dan halang rintang. “Kajian kami wilayah yang paling strategis adalah kecamatan Mook Manaar Bulatn sebagai markas komando Yonif 612/Modang,” jelasnya.

Sedangkan kompi senapan yang akan didirikan, menurut Deni, yaitu kompi senapan C, yang menurut kajian diusulkan dibangun di kecamatan Bentian Besar, serta kompi senapan D akan dibentuk di kecamatan Bongan. “Masing-masing jumlah personil yang akan ditempatkan pada kedua kompi senapan sebanyak 146 orang,” terangnya.  Adapun sarana yang dibangun nantinya yaitu perumahan, perkantoran, kesehatan perbekalan, ibadah dan olahraga.

Deni berharap kehadiran Yonif 0612/Modang, dapat memberi manfaat bagi Kubar yaitu dapat memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat, serta pemerataan penyebaran penduduk. 

“Selain itu menambah jumlah personil karena wilayah Kubar yang cukup luas, sedangkan pasukan saat ini yang terbatas, dan wilayah kubar merupakan bagian NKRI yang patut dijaga kedaulatan dan keutuhannya dari ancaman sengketa perbatasan, kejahatan transnasional perebutan sumber daya alam, konflik komunal berbasis sara, aksi terorisme dan separatisme serta bencana alam,” ujarnya.

Sekretaris kabupaten Kubar Aminuddin mendukung pembentukan markas TNI tersebut. Dirinya mengakui dengan keberadaan Yonif 612/Modan di Kubar akan menambah mobilitas ekonomi warga setempat. Menurutnya, untuk menindaklanjuti usulan pembentukan Yonif 0612/Modang, selanjutnya pemkab Kubar dan TNI akan membentuk tim terpadu untuk membahas pembentukan Yonif 612/Modang sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku. 

“Dalam pembentukan ini harus sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku, misalnya apakah lahan yang diajukan tidak masuk dalam lokasi Kawasan Budidaya Kehutanan, legalitas kepemilikan lahan dan sebagainya. 

Untuk memastikan hal ini, selanjutnya akan dibentuk tim dalam rangka pembentukan terdiri dari sejumlah pihak terkait mulai dari Pemkab Kubar, TNI, Badan Pertanahan, hingga Camat dimana rencana lokasi berada,”terang Aminuddin.

Sementara itu sejumlah Camat yang hadir mengaku masyarakatnya sanga mendukung keberadaan Yonif 0612/Modang di Kubar. Camat Mook Manaar Bulatn Moses mengatakan, warga bahkan menawarkan lahannya sebagai lokasi. Senada diungkapkan Camat Bongan Andi Parenrengi belum ada hambatan dari warga setempat. 

Sumber : Humaskubar
Read More..