Thursday, 11 February 2016

Minim Anggaran, Spesifikasi Pesawat Dikurangi

Sebagian besar kontrak pengadaan alat utama sistem persenjataan dan pesawat baru milik TNI Angkatan Udara terkendala anggaran yang minim. Untuk menghemat pengeluaran, seringkali pesawat yang baru dibeli tidak dihadirkan dengan spesifikasi yang lengkap. Kekurangan itu biasanya akan dilengkapi kemudian saat anggaran mencukupi.

Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Mahfudz Siddiq mengatakan, pengurangan spesifikasi tersebut ditengarai meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan pesawat milik TNI AU. Salah satu contohnya, pesawat tempur taktis Super Tucano TT-3108 yang jatuh di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (10/2/2016).

"Seperti banyak pesawat milik TNI AU yang kita beli, pesawat Super Tucano juga saat pengadaan terpaksa dikurangi sejumlah spesifikasinya. Masalahnya, anggaran kita memang minim," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera itu, Kamis (11/2/2016) di Jakarta.

Spesifikasi yang dikurangi dari pesawat TNI AU umumnya mencakup komponen persenjataan dan berbagai jenis radar. Mahfudz mengatakan, pengurangan spesifikasi itu membuat pesawat tidak bisa berfungsi maksimal. 

Hal itu bisa berakibat pada rentannya pesawat mengalami gagal terbang atau justru kecelakaan. Namun, ia mengakui tidak mengetahui secara rinci spesifikasi apa saja yang dikurangi dari 16 unit Super Tucano.

"Itu juga menjelaskan, mengapa pesawat Super Tucano yang relatif baru dan baru saja menjalani perawatan dan pemeliharaan, bisa gagal terbang dan jatuh menukik," kata Mahfudz.

Di sisi lain, selain kontrak pembelian pesawat yang banyak kekurangan, anggaran dan sistem pemeliharaan dan perawatan pesawat pun belum memadai. Hal itu juga berkontribusi pada buruknya kondisi pesawat yang baru dibeli. 

"Kuncinya memang di anggaran, maka berikutnya, kami berharap pemerintah bisa berkomitmen lebih untuk menjamin anggaran pengadaan alutsista untuk kepentingan pertahanan," tutur Mahfudz.

Pesawat Super Tucano yang jatuh relatif baru. Super Tucano, menurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, adalah buatan tahun 2003 dan didatangkan ke Indonesia pada 2012. TNI AU membeli 16 unit pesawat, tetapi ada empat pesawat yang belum tiba. Saat pertama kali didatangkan, menurut Ryamizard, pesawat-pesawat produksi Embraer, Brasil, itu dalam keadaan baik (Kompas, 11/2/2016).

Evakuasi selesai

Evakuasi badan pesawat tempur taktis Super Tucano TT-3108 yang jatuh di permukiman padat penduduk, Jalan LA Sucipto, Kota Malang, Jawa Timur, selesai pada Kamis (11/2/2016) pukul 11.00. Komponen penting pesawat seperti mesin dan rekaman data penerbangan sudah diambil dari reruntuhan pesawat.

"Hari ini kami melanjutkan evakuasi serpihan pesawat yang tersisa, dan semua sudah diangkat. Flight data recorder juga sudah ditemukan sehingga evakuasi dihentikan. Setelah ini TKP kami serahkan ke Polresta Malang," kata Kepala Dinas Operasi Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh Malang Kolonel Penerbang Fairlyanto.

Ia mengungkapkan, penyebab jatuhnya pesawat tempur yang dibeli tahun 2010 (tiba di Indonesia tahun 2012) belum diketahui. "Setelah ini akan dilakukan pembacaan flight data recorder untuk mengetahui penyebab kecelakaan. Investigasi ini akan dilakukan secepatnya oleh tim khusus yang sudah dibentuk," kata Fairlyanto.

Dari evakuasi diketahui bahwa komponen utama pesawat terbenam sedalam lebih kurang 3 meter. Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna sebelumnya mengatakan pesawat terus aktif saat jatuh. Kemungkinan propeler di moncong pesawat terus aktif sehingga pesawat bisa masuk ke dalam tanah.

Selain evakuasi bangkai pesawat, pada hari ini juga dilakukan pemakaman juru mesin udara Serma Syaiful Arief Rakhman di Taman Makam Pahlawan Suropati, Kota Malang.
Pesawat Super Tucano TT-3108 tersebut jatuh menimpa rumah Mujianto. 

Kecelakaan itu menyebabkan empat orang tewas, yaitu dua penghuni rumah, Erma Wahyuningtyas (47) dan Nurcholis (27), serta dua awak pesawat Super Tucano yaitu pilot Mayor Penerbang Ivy Safatillah (36) dan juru mesin udara Sersan Mayor Syaiful Arief Rakhman (36).

Dua jenazah warga sipil ditemukan di dalam rumah. Adapun jenazah pilot ditemukan dalam jarak 8 kilometer dari lokasi jatuhnya pesawat (parasut ditemukan 2 km dari lokasi ditemukannya pilot). Sementara jenazah juru mesin udara ditemukan masih berada di dalam kokpit pesawat.

Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Agus Supriatna dalam siaran persnya, Rabu di Malang, menjelaskan bahwa pesawat Super Tucano tersebut sedang melakukan tes terbang setelah dilakukan pemeliharaan selama 300 jam terbang. Pemeliharaan dilakukan setiap 50 jam terbang.

"Pesawat sedang dalam pelaksanaan tes terbang setelah pemeliharaan 300 jam terbang. Profil pertama sudah dicek sejak Selasa. Rabu kemarin dilaksanakan tes terbang dengan profil saat ketinggian 25.000 kaki untuk mencari kecepatan poin 56 mach number. 

Setelah 15.000 kaki, petugas laporan. Setelah itu dilakukan cek performa melakukan dive angle (menukik) dengan sudut 30 derajat untuk mencari kecepatan 320 knot. Jika sesuai prosedur, seharusnya di ketinggian 8.000 kaki petugas akan mengabarkan posisinya. Namun, rupanya petugas di darat tidak lagi menerima kabar dari kru pesawat Super Tucano," ujar Agus.


Sumber :Kompas
Read More..

Rusia Kembali Tawarkan Jet Tempur Sukhoi SU-35 ke Indonesia

Pemerintah Rusia kembali menawarkan pesawat jet tempur jenis Sukhoi SU-35 kepada Pemerintah Indonesia. Tawaran itu disampaikan Delegasi Sekretaris Dewan Keamanan Federasi Rusia yang menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Mereka (Rusia) menawarkan beberapa alat-alat canggih untuk pertahanan juga, yaitu mulai dari SU 35, Helikopter sampai dengan peralatan canggih lainnya," ujar Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Selain alat pertahanan tersebut, negara eks Uni Soviet itu juga menawarkan alat pertahanan canggih lainnya seperti kapal selam dan kapal cepat. Dalam kunjungannya ke Indonesia, kata Luhut, delegasi Rusia juga menawarkan kerja sama di bidang penanganan kejahatan narkoba.

"Mereka juga punya kepentingan menyangkut masalah narkoba. Oleh karena itu mereka juga ingin sharing intelijen menyangkut masalah penanggulangan narkoba," paparnya.

Lebih lanjut Luhut menambahkan, Pemerintah Indonesia sempat menyampaikan sikapnya terhadap konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang terjadi antara Iran dan Arab Saudi.

Luhut mengaku, Rusia menyambut baik sikap Indonesia yang menghendaki agar ketegangan di negara tersebut segera dihentikan.

"Tetapi presiden mengatakan, tadi kami ingin supaya Rusia dan negara-negara lain memahami sikap Indonesia untuk membantu mengurangi ketegangan di kawasan itu," tandasnya.


Sumber : Sindo
Read More..

Kapal Patroli Bakamla Dilengkapi Kemampuan Tempur

Badan Keamanan Laut (Bakamla) terus memperkuat kemampuannya dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia. Salah satunya dengan melengkapi landasan peluncur peluru kendali dan senjata kaliber 12,7 mm pada kapalnya.

Pelaksana tugas Sekretaris Utama (Sestama) Bakamla Laksama Pertama Maritim, Dicky R Munaf mengatakan, ada enam kapal yang dipasang alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan landasan peluncur peluru kendali. Enam kapal itu kata dia, seri 48 mulai dari 01-06.

"Di kapal juga kita siapkan landasan peluncur peluru kendali, kalau dalam kondisi perang bisa digunakan, karena kita bagian dari komponen cadangan," ujar Dicky, Jakarta, Rabu (10/2/2016).

Dia menjelaskan, penempatan alutsista di kapal Bakamla sudah sesuai aturan dari Menteri Pertahanan (Menhan) Nomor 7 Tahun 2010 tentang pedoman perizinan, pengawasan dan pengendalian senjata api standar militer di luar lingkungan Kementerian Pertahanan dan TNI.

"Karena kita masuk kategori komponen cadangan. Memang disiapkan jika terjadi perang. Makanya kita ada latihan nuklir, tembak dan SAR," jelasnya.

Dia menambahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 Bakamla menargetkan memiliki 30 kapal. Rinciannya, kapal berukuran 16 meter sebanyak 14 unit. Kapal ukuran 80 meter sebanyak 10 unit dan kapal 110 meter sebanyak empat unit. "Saat ini kami baru memiliki enam kapal, sisanya masih dalam proses pengadaan," tandasnya.

Menurutnya, pengadaan kapal berukuran besar penting, karena ada kecenderungan kapal-kapal asing melakukan illegal fishing dengan melakukan aksi di garis perbatasan. Sementara, kapal milik TNI AL yang beroperasi masih terbatas.

"Kalau di perairan di bawah 24 NM sudah ada kapal-kapal dari lembaga dan instansi lain. Cuma perairan di atas itu masih sedikit kapal yang patroli," ucapnya.

Adanya kapal berukuran besar di periran Selatan Jawa dan Barat Sumatera, kata dia yang selama ini  kurang mendapat pengawasan akan diawasi. "Kita perkuat di sana, kita harus ada di sana. Di perairan ini banyak aksi people smuggling, banyak kejadian di utara Aceh tapi nggak mungkin sampai ke sana harus kapal berukuran 110 meter," ucapnya. 


Sumber : Sindo
Read More..

Menhan: Super Tucano Sudah Diproduksi 650 Unit, Baru 1 yang Kecelakaan

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan tetap akan meneruskan proses pemesanan pesawat Super Tucano dari Brasil, meskipun pagi ini salah satu pesawat Tucano yang dipunyai TNI AU mengalami kecelakaan. Menhan beralasan, dari 650 Unit pesawat Super Tucano yang sudah diproduksi baru satu yang mengalami kecelakaan.

"Ini pesawat baru, 2012, masih 4 tahun. Pembuatan baru juga, tahun 2003. Jadi enggak ada masalah ini sudah memproduksi 650. Laku lah enggak cuma di Indonesia. Ini (kecelakaan) baru pertama kali. Yang (buatan) Korea itu tiga kan (yang kecelakaan), yang di Malaysia 2 dan waktu itu 1 (di Yogya)," kata Menhan di Istana Negara, Jl Veteran, Jakpus, Rabu (10/2/2016).


Oleh karena itu, proses pemesanan akan tetap berlanjut. Apalagi, penyebab jatuhnya pesawat Super Tucano milik TNI AU di Malang pagi ini juga belum diketahui.

"Kita enggak tahu (penyebabnya) dan enggak mau terburu-buru dikejar waktu susah juga. Paling tidak pesawat itu tidak terlalu rumitlah. Diharapkan cepatlah, jadi kalau nanti lama-lama banyak lagi kegiatan lain. Pesawat kan tidak terlalu rumit. Satu atau dua bulan kenapa enggak," jelas Ryamizard.

"Maka lihat dulu, kalau karena mesin harus dibongkar, kalau karena orang atau angin berarti orangnya diperbaiki," tegasnya.

Indonesia sebelumnya memesan pesawat Super Tucano dari perusahaan asal Brasil, Embraer Defence System. Dari 16 yang dipesan, sudah 12 yang sudah dikirimkan. 


Sumber : Detik
Read More..

TNI AU Berencana Beli Rumah Warga yang Tertimpa Super Tucano untuk Dijadikan Monumen

TNI AU berencana membeli rumah warga yang tertimpa Super Tucano di Blimbing, Malang. Rumah milik Mujianto itu memang rusak. Istrinya Mujianto, Erma Wahyuningtyas dan penyewa kos, Nurkholis juga meninggal.

"Kami rencananya akan membeli rumah itu, nanti akan kami jadikan monumen," jelas KSAU Marsekal Agus Supriatna di Malang, Rabu (10/2/2016).

Rumah Mujianto juga akan dibongkar, pemilik rumah sudah setuju. Rumah itu dibongkar sekaligus untuk memudahkan evakuasi pesawat. Di kokpit pesawat masih ada jasad teknisi Saiful.

"Kami akan bongkar rumah dahulu untuk mengevakuasi pesawat," jelas Agus.


Evakuasi Selesai, Rumah Mujianto Kini Rata dengan Tanah



Kediaman Mujianto di Jalan Laksda Adi Sucipto Gang XII, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, kini rata dengan tanah. Sebidang bangunan berada tepat di belakangnya turut juga diruntuhkan menggunakan alat berat.

Selama proses tersebut, anggota TNI AU dari Paskhas terus mengamankan lokasi. Mereka kini lebih menjaga bangkai pesawat masih berada di lokasi kejadian.

Garis polisi dijadikan pembatas area yang dilokalisir sudah tidak lagi digunakan. Sehingga warga bisa langsung melihat dari jarak dekat alat berat meratakan bangunan di tempat jatuhnya Super Tucano TT 3108 dipiloti Mayor (Pnb) Ivy Safatillah bersama Serma Syaiful juru teknisi udara.

"Proses evakuasi Super Tucano telah usai, tinggal meratakan bangunan di lokasi," kata Kepala Dinas Operasi Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh Kolonel (Pnb) Fairli Aprianto kepada wartawan di lokasi, Kamis (11/2/2016), siang.

Dikatakan bahwa, semua puing pesawat buatan Brasil tersebut sudah dievakuasi ke Pangkalan TNI AU Abdulrachman Saleh. Untuk selanjutnya, Tempat Kejadian Perkara (TKP) akan diserahkan kepada aparat kepolisian setempat. "Untuk selanjutnya kami serahkan kepada pihak kepolisian," ucapnya menambahkan.


Sumber : Detik

Read More..

Mayor Pnb Ivy Dikenal Sebagai Sosok Periang Dan Loyal

Mayor Pnb Ivy Safatila, pilot pesawat EMB-314 Super Tucano menjadi korban meninggal dalam kecelakaan pesawat di Malang. Almarhum selama hidupnya dikenal sebagai sosok periang dan memiliki loyalitas yang tinggi.

Komandan Wing 2 Lanud Abdulrahman Saleh, Kolonel M Arifin mengatakan Mayor Pnb Ivy Safatila adalah sosok yang sangat baik. Ia adalah orang yang periang dan bersahabat.

"Beliau periang, bersahabat, pekerja keras, memiliki kemauan tinggi, dan loyalitas baik dinas maupun teman sejawatnya," kata M Arifin di rumah duka Mayor Pnb Ivy Safatila di di Jalan Perintis Kemerdekaan No 2, RT 28/007 Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta, Rabu (10/2/2016) malam.

Mayor pnb Ivy ditemukan meninggal dunia setelah jatuh bersama pesawat Super Tucano di Kota Malang, Jawa Timur. Jenazah Ivy ditemukan 13 kilometer dari titik jatuhnya pesawat.

Setelah kejadian ini, semua operasi pesawat Super Tucano dihentikan lebih dulu sampai menunggu hasil penyelidikan selesai untuk mengetahui penyebab dari kejadian tersebut.

Jenazah Mayor Pnb Ivy Safatila akan di makamkan di TMP Kusumanegara Yogyakarta hari Kamis (11/2). Almarhum Mayor Pnb Ivy Safatila meninggalkan dua orang putra yang masih kecil dan seorang istri yang sedang mengandung 8 bulan, yakni dr Diana Fitri. 


Sumber : Detik
Read More..